| Siti Auliya's profileSiti's spaceBlogNetwork | Help |
Siti's spaceSiti Auliya |
||||||
|
July 20 Syekh Siti Jenar berpolitik, bersahabat dengan Wali SongoSyekh Siti Jenar berpolitik bersahabat dengan Wali Songo
Syekh Siti Jenar tidak ada, Yang ada Allah Allah tidak ada, Yang ada Syekh Siti Jenar
Sekelumit penggalan dialog di atas sangat populer dan menjadi puncak keributan masa itu. Percakapan ini dari abad ke abad selalu di shooting dalam frame tema ketauhidan sehingga mudah ditebak endingnya adalah sebuah telunjuk yang menuding dan menepuk dada tanpa ada pemaknaan lebih. Dengan kata lain semua cerita seputar Syekh Siti Jenar dan Wali Songo masih menjadi tontonan yang belum diteruskan menjadi tuntunan. Artinya kita masih seperti menonton film action yang selalu terjebak pemujaan atau penghinaan terhadap tokoh protagonis vs antagonis tanpa bisa melihat sebuah keutuhan akan sebuah hikmah tuntunan pesan cerita.
Entah kenapa saya tiba-tiba ingin sekedar menapaktilasi percakapan itu dan yang saya temukan anehnya bukan sebuah dialog ketauhidan melainkan percakapan "politik Tuhan" yang sebenarnya sampai saat ini masih sering di gunakan oleh orang yang gemar berebut kekuasaan atas nama Tuhan, di seluruh dunia, apapun agamanya. Saya pribadi bukan pemuja atau pembenci Syekh Siti Jenar tetapi saya harus mengakui bahwa ada makna politis rendah hati dan gentlemen dibalik kata - kata bombastis dan terlihat angkuh yang oleh sebagian besar orang sudah terlanjur dimaknai secara akidah ketauhidan. Kalau kita melihat cerita ini sangat jelas bahwa dialog ini terjadi antara Syekh Siti Jenar (SSJ) dengan punggawa kerajaan yang berarti para punggawa itu adalah representasi dari kekuasaan. Dalam kalimat Syekh Siti Jenar tidak ada, Yang ada Allah adalah ungkapan makna atas sebuah seting bahwa SSJ adalah seorang tokoh berpengaruh waktu itu. Dalam hal ini pemanggilan SSJ adalah sebuah kepentingan legalisasi kekuasaan sehingga jawaban yang keluar adalah Syech Siti Jenar tidak ada, Yang ada Allah bila dijabarkan menjadi kalimat yang lebih mudah dipahami seolah SSJ berpesan:
"Kamu jangan menggunakan pribadiku sebagai legalitas penstabil sistem kekuasaan yang sedang engkau bangun sebab di padepokanku tak lebih hanya kuajarkan bagaimana manusia mendekatkan diri dengan Khalik sesuai kemampuan masing-masing. Dan bila mereka telah teguh bermiraj mengenal Tuhannya, langkah selanjutnya pasti saya kirim ke para guruku Walisongo untuk belajar hijrah masalah sosial kemasyarakatan. Sebab aku dulu juga berguru kepada mereka. Singkatnya aku hanya membahas Allah, yang ada di kajianku hanya spesialisasi Allah, jadi tenang aja... SSJ nggak ada pengaruhnya dengan legalitas kekuasaan dunia sebab yang ada hanya legalitas Allah. Lebih singkatnya SSJ nggak ada yang ada hanya Allah. Masalah ada beberapa orang yang dulunya bekas penguasa yang sekarang tergusur kemudian menempel mendekatiku, itu urusan pribadinya. Pun kalau ada orang yang ngaji kesini sekedar mencari celah atau menjadikan diriku sebagai bahan api permusuhan, itu juga urusan dia dengan kesibukan dirinya sendiri. Tugasku hanya menjadi "tombo ati" untuk mengingatkan bahwa tiada kekuasaan yang kekal selain kekuasaan Allah apapun landasan ideologi yang dibangun atas kekuasaan itu.Nyata bahwasannya Allah menggilirkan kejayaan setiap kaum...memang begitulah adanya bahwa tiada kemapanan bersandar selain kepada Allah".
Di sinilah independensi seorang ( ulama ? ) sedang di uji. Sang ulama tidak mau mendatangi umara, tak ada cerita sumur sebagai mata air mendatangi timba.
Para punggawa pun dengan keterbatasan pemahaman melaporkan ungkapan Syech Siti Jenar tidak ada, Yang ada Allah . Oke kalau begitu panggil Allah kalau memang SSJ nggak ada. ..Titah pun dilaksanakan. Namun sesampai dipadepokan tak kalah cerdiknya SSJ menjawab Allah tidak ada, Yang ada Syekh Siti Jenar. SSJ rupanya ingin menyampaikan pesan tersirat: "Ngapain lo balik lagi pake bawa nama Allah segala....udahlah di sini cuman ada SSJ. Kamu ke sini sebenarnya kan cuma cari aku dan cari kesalahan - kesalahan toh ? Bukan niat mencari Allah ? Kalau urusan sama Allah langsung aja wong Allah itu lebih dekat dari urat leher. Nggak harus kesini...Di kerajaan juga bisa, di rumah bisa, di manapun bisa... kenapa sih panggil - panggil Allah kok harus nunggu restu ya tidaknya saya? Emangnya saya ini atasan Allah? Apa sih pengaruhku? Emangnya aku ini pembesar yang setiap ngomong diamieni umat? Wong saya ini cuman solitaire sebatang kara. Fakir, fana gitu .... Sebenarnya kamu sendiri kan juga bisa apalagi di tempatmu juga ada sahabat dan guruku, para Wali Songo....Mereka adalah orang yang siap mengajarimu bagaimana cara terbaik berhubungan dengan Tuhan dan berakhlak lembut kepada sesama manusia".
Syekh Siti Jenar berpolitik bersahabat dengan Wali Songo - 2
Ending cerita, Walisongo pun tak kalah canggih sehingga pada akhirnya para beliau mampu membujuk Syekh Siti Jenar. Para Walisongo seakan berkata lembut:
"Begini lho dik Siti... Kita ini kan intinya mendidik umat dari menyembah benda mati atau paham materi seperti patung dan sejenisnya untuk diteruskan tanpa perantara ini itu menjadi langsung menyembah mengagungkan Yang Maha Hidup, Allah.... "
"Lha iya toh ...dinda kan udah benar mengajari begitu. Adapun dinda sering memakai jargon manunggaling kawula Gusti itu tak lebih untuk melepas kerak pemahaman mereka yang sangat berkarat tentang anggapan bahwa untuk menghadap Tuhan harus pakai wasilah rumus materi, makelar berhala atau rabi pendeta beserta segala fatwanya. Hal itu kan dilarang dalam kitab suci! Wajar dong kalau dinda pakai kata-kata ekstrim semacam itu sebagai shock therapi sebab mereka sudah kadung turun temurun meyakini feodalisme ketuhanan yang berlapis-lapis seperti agama-agama terdahulu...biar bisa patas gitu lho...."
Para Walisongo meneruskan percakapannya:
"Masalahnya bukan itu Dik...tetapi orang yang mengaji di tempat sampeyan dan di tempat para wali ternyata saling berseberangan. Jangan sampai mereka mengatasnamakan diri kita dan agama untuk berebut urusan pamor dunia walaupun sesungguhnya saat ini aroma itu sudah sangat terasa" . SSJ : "Lalu...?" WS : "Bagaimanapun
demi syiarnya agama tauhid yang lagi merekah indah, dalam kasus ini mau tak mau
harus ada yang dikorbankan, dan tentunya bukan mengorbankan umat..." WS : "Jangan...nanti kita malah dianggap berpihak kepada salah satu dari mereka. Malah rumit dan banyak makan korban padahal ini notobene urusan dunia. Lagipula tidak baik dampaknya bagi penyebaran agama ini.... Jangan terjebak wacana mereka. Ingat, Innama alhayatu alddunya laaibun walahwun, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya permainan dan senda gurau. Nggak perlu menohok orang lain lah...santai aja ". SSJ : "Trus..?" WS : "Ya terpaksa ente jadi korban..." SSJ : "Lho kok ane ? nggak lagi bersenda gurau kan ?" WS : "Duduk permasalahannya begini...mohon diingat sekali lagi, ini demi syiar, ini demi umat. Sekali lagi intinya gini, Raja yang berkuasa saat ini sangat patuh dan tunduk terhadap apa yang di ucapkan Dewan Wali. Apapun yang diomongkan para wali akan dilakukannya demi luasnya pengaruh. Memang kondisinya sama patuhnya seperti bekas para pembesar yang juga tunduk kepada dik Siti... Tetapi bagaimanapun yang sedang berkuasa tentunya mempunyai bawahan dan perangkat sosialisasi yang lebih solid untuk diarahkan sebagai alat syiar agama. Dik Siti harus ingat di tanah ini ada istilah sabdo pandito ratu, titah raja berkuasa penuh. Jadi bila para Dewan Wali berhasil mengendalikan sang raja, ya otomatis seluruh wilayah kekuasaannya ikut serta. Dan yang harus dipertimbangkan kondisi saat ini masih dalam masa peralihan dari pengaruh kekuasaan yang dulu sehingga bisa saja terjadi perlawanan. Untuk itulah dik Siti harus berkorban... Mengapa ? Sebab kemungkinan besar padepokan dik Siti dijadikan ajang konsolidasi dan ketiak berlindung untuk mengatur strategi perebutan kembali kekuasaan yang telah hilang. Bila itu terjadi jelas berbahaya, sebab bila mereka melakukan kudeta dan menang, belum tentu mereka tunduk pada Dewan Wali agar mau melakukan syiar alias akan balik maning ke agama nenek moyang yang feodal birokratis. Pun belum tentu bila mereka telah berkuasa tetap mau ngaji sama dik Siti . Gagal lah kita semua.... Bila dik Siti yang berkorban maka jelas tak ada tempat untuk konsolidasi yang tentu saja berimbas tak akan ada pemberontakan, tak ada atas nama-atas nama, dan yang lebih penting umat tidak menjadi korban. Sebab kalau dik Siti cuman dipenjara, itu malah jadi bahan perlambang ketertindasan dan perlawanan sebab di situ ada figur kharismatik yang masih hidup. Mudah ditebak, akhirnya agama ini tak akan membawa maslahat. Kita hanya akan terjebak ikut isu-isu politik yang melelahkan sehingga tak sempat secara nyata berkeringat ngurusi umat selain hanya merasa sudah sibuk yang akhirnya cuman sekedar menang di awang - awang. Masalah para kawula alit yang ngangsu kawruh di padepokan dik Siti tak usah dipikirkan sebab kami akan meneruskan pengajaran itu. Dan kami yakin mereka tak akan meributkan masalah ini sebab para wali yakin bahwa dik Siti telah mengajarkan pada mereka apa makna hidup sesungguhnya, bahwa dunia ini sekedar mampir ngombe, laaibun walahwun....sebab memang begitulah yang sering kami dengar di pasar-pasar, di warung-warung, dan di gardu tentang ajaran dik Siti yang begitu memikat mereka... . Untuk itulah kami para wali memohon kerelaan dik Siti untuk ikhlas meninggalkan dunia yang fana ini...sebab saat ini hanya inilah jalan satu-satunya.Toh dik Siti juga sudah paham bahwasannya alam langgeng lebih baik daripada kehidupan dunia yang fana ini. Mohon dikerjakan dalam tempo yang sesingkat singkatnya. Sekali lagi ini demi berkembangnya syiar dan keselamatan umat..."
Akhirnya setelah mendengar penjelasan itu, Syeh Siti Jenar dengan sigap berkata:
"Baiklah kalau begitu, demi syiar yang lebih luas dan damai, ane siap meninggalkan dunia ini. Mati sajroning urip sudah kujalani, sekarang urip sajroning mati adalah ajaran para sahabat dan guruku Wali Songo yang harus ku tempuh saat ini. Aku tak mau tanah yang sedang kuajari bertauhid bersama Wali Songo kembali menjadi tanah yang rumit dalam bertuhan dan kembali menuhankan hukum materi dengan segala rumusan dewa yang begitu banyak dan ribet. Aku juga tak mau mengorbankan umat sebab aku bukan tipe pemimpin yang bermakmur sentosa di atas penderitaan umat. Maka hari ini saksikanlah...Aku Syekh Siti Jenar alias Syekh Lemah Abang alias Syekh Tanah Merah yang bermakna seorang ahli yang telah menguasai tanah yang merah membara penuh prahara...seorang yang telah mampu menundukkan segala merahnya nafsu yang muncul dari segala keindahan perut bumi... Aku akan kembali kepada Tuhanku dalam keadaan rela...."
Syekh Siti Jenar berpolitik bersahabat dengan Wali Songo - 3
Tetapi jangan sampai fokus kita terpancing pada daun atau pisangnya sehingga kita menganggapnya syirik bid'ah dkk, tetapi lihatlah bahwa di situ ternyata tetap ada ajaran sholat. Adapun daun adalah sekedar perlambang sebuah kehidupan dan tempat keluar masuknya sirkulasi nafas pohon, maka dalam sholat hendaklah selalu tertuju kepada Yang Maha Hidup dan Maha Menguasai Gerak Nafas. Sedangkan pelepah pisang adalah perwakilan pohon pisang dimana segala bagiannya selalu berguna bagi manusia. Pelajaran ini memaknakan orang yang telah benar sholatnya pasti menjadi orang yang murah hati, ringan tangan, tidak mudah mencela dan berakhlak luhur. Di lain hal juga sudah seharusnya para pengikut SSJ tidak hanya berhenti oleh gambaran "syariat laku " sholat di atas daun atau beralas pelepah pisang melainkan memaknai lebih dalam dan disesuaikan dengan kondisi jaman agar tidak terjadi salah paham yang berkepanjangan. Misalnya menindaklanjuti shalat versi sujud di atas daun beralas pelepas pisang dengan cara menjaga kelestarian hutan tempat tumbuh kembangnya dedaunan dan pisang yang saat ini lagi dibabati para cukong dimana disitu terdapat paru-paru bumi sebagai cadangan gerak hidup nafas kita. Sudah seharusnya para penghayat SSJ secara sistemik meluruskan kondisi bahwa hutan-hutan itu harus kembali menjadi hutan lindung dalam arti sesungguhnya yaitu sebagai pelindung ekosistem dan dan AC bumi sebagai peredam pemanasan global, bukan hutan yang melindungi perut segelintir orang. Hal ini akan sesuai dengan ayat Quran bahwasanya sholat itu berdampak keberanian mencegah kemungkaran.
Lepas dari ajaran itu sebenarnya sih sholat di atas daun yang notobene made in Allah ini jelas lebih baik daripada sholat di atas sajadah made in negara berpaham komunis yang saat ini paling memonopoli pasar peredaran peralatan sholat di seluruh dunia. Sebab kita tak tahu persis kandungan kehalalan bahan dan proses pembuatannya, itikad jual beli lobi monopolinya, sistem penghargaan keringat buruhnya, atau keuntungan sahamnya yang ternyata untuk menggilas pemakai sajadah itu sendiri dan banyak hal abu-abu di balik itu.
Di balik sejarah yang sudah terlanjur mem-plot kejadian ini sebagai sebuah konflik ketuhanan, yang sebenarnya harus diakui bahwa proses islamisasi tanah Jawa atas kejadian ini adalah proses Islamisasi yang paling santun setelah masa Rasulullah, mengakar kaya makna, sedikit korban dan jelas paling banyak menghasilkan pengikut. Hal ini karena adanya kemengalahan pemimpin, bukan keterkalahan umat....Memang tipis bedanya dua hal ini namun sebenarnya mudah di deteksi ...tapi apa parameternya ?Yaitu bila ulama tidak lagi punya wibawa di depan umara karena ulama lebih senang sowan ke penggedhe daripada turun gunung. Tak lain hanya demi mendapatkan cipratan pamor dan insentif... Hal ini bagaikan sumur yang mencari timba...pasti air umat kececeran tak terurusi....Kata orang Jawa " kebo nyusu gudhel ".Untuk itu memang seharusnya kita membiasakan menempatkan derajat penghormatan kepada ulama lebih tinggi dari umara walaupun di tataran praktis harus tetap patuh pada umara. Semua itu harus dilakukan semata-mata agar kehidupan tidak kacau. Karena ulama lah pemegang rahasia hidup.
Namun sebelumnya kita juga harus mencari ulama sejati pemimpin umat itu. Tapi siapakah mereka? Carilah mereka yang paling di garda depan getol menemani orang tertindas, tereliminasi dan teryatimkan secara struktur kemasyarakatan, tidak mencari nama baik diri, dan siap dianggap tidak populer. Merekalah yang berhak disebut warosatul anbiya, pewaris para nabi, mensifati peran nabi.... "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu.............( At Taubah 128 ).
Seperti yang saya maksudkan, tulisan ini sekedar menshoot dari angle lain bahwa Wali Songo dan Syeh Siti Jenar adalah para lakon yang ditakuti penguasa namun ter-fetakompli saling berhadap-hadapan demi menyelamatkan umat yang lagi disandera berhala kekuasaan. Mungkinkah kasus Al Hallaj atau Ibn Arabi juga begitu ? Wallahualam. Di balik itu semua ada baiknya kita belajar dari sejarah keterpecahan umat Islam akibat dari mengatas namakan Tuhan dan Al Quran. Karena memang inilah jargon paling efektif sebagai alat bela diri paling ampuh untuk mempertahankan sesuatau yang dianggap berharga, mulai jaman nabi Adam sampai entah kapan.
Sebab apa-apa yang keluar dari mulut seorang anak Adam ternyata latar belakangnya sangat komplek. Bisa karena urusan harga diri pribadi, perut, perebutan klan atau trah, aktualisasi eksistensi diri, kedudukan, feodalisme strata, ekonomi, almamater, cari pengikut, kedekatan hubungan, fanatisme partai atau golongan, ketersaingan intelektual, kecemburuan sosial, karir, jaim, caper dan tentu saja dibalik itu tetap ada penjaga gawang yang selalu setia tulus ikhlas sepi ing pamrih rame ing gawe menangkapi bola-bola liar agar gawang agama tidak kebobolan karena para pemain lagi asyik masyuk berebut menjadi penyerang garda depan demi memperoleh penghargaan hingga lupa pertahanan....
Syekh Siti Jenar berpolitik bersahabat dengan Wali Songo - 4
Untuk itu sudah saatnya kita menjadikan akhlak sebagai parameter utama berislam, bukannya malah terus mempanglimakan fikih dan teologi yang terbukti ratusan tahun malah memecah belah dan gagal memajukan umat. Sebab pokok ajaran Islam ( salam ) mengerucut sederhana pada Ayat Quran bahwa Muhammad di utus ebagai pembawa rahmat ( kasih sayang ) dan perkataan Rasulullah " Aku di utus tak lain hanya untuk menyempurnakan akhlak ". Lha kalau kita sudah bisa mengenal atau berhubungan langsung dengan Allah tetapi masih keras dengan manusia lalu apa bedanya dengan iblis yang tidak mau bertawadhu sujud menghargai manusia ? Sebab iblis juga berdialog berhadapan langsung dengan Allah. Juga kalau kita sudah bisa berfikih ria secara ndakik bin njlimet tapi masih suka agresif menindas orang yang tidak sejalan lalu apa bedanya dengan mental para orientalis yang agresif menjajah dan mencari - cari kelemahan Islam ? Sebab mereka saat ini juga lebih lihai bahkan lebih lihai dari kyai dalam meneliti kitab kuning dan sumber- sumber tarikh Islam karena kekuatan informasi, modal dan ekspansinya. Pun kalau kita ini telah menguasai teologi secara pembelajaran sistematis sampai mampu menjadi konseptor idea alias filsuf tetapi masih suka meremehkan kalimat-kalimat sederhana berketuhanan, terus apa bedanya dengan orang yang telah mencapai gelar S2 atau S3 program teologia di Malang, di mana di daerah saya ini terdapat banyak lembaga-lembaga tinggi pembelajaran semacam itu yang bertaraf internasional dan terbesar di Asia. Sebab di perpustakaannya berderet lengkap konsep agama - agama di seluruh dunia dan mereka wajib membacanya bahkan ada divisi menghapal Al Quran segala. Tetapi anehnya karena terbiasa rumitnya berfilsafat, mereka malah kesulitan memahami ayat Al Quran yang mukhamaat alias gamblang alias saklek alias sederhana, Lakum diinukum waliya diini sehingga hidupnya selalu memakai style memaksa - maksa dan membantah orang yang telah mempunyai keyakinan yang pasti dengan cara menyodor-nyodori apa yang pernah mereka pelajari dengan berbagai argumen yang kelihatannya sangat masuk akal ( Insya Allah nanti akan saya tuliskan tersendiri dialog dengan mereka )
Dan ternyata ungkapan Syech Siti Jenar tidak ada, Yang ada Allah dan Allah tidak ada, Yang ada Syech Siti Jenar hanya karena malasnya SSJ ngomong panjang lebar sebab SSJ sudah hafal betul tabiat kekuasaan. Dialognya hanya sekedar mengajarkan pesan bahwa batas ulama dengan umara harus jelas. Bahwa seorang ulama harus independen dan siap berkorban demi keselamatan umatnya. Sebab sang ulama sejati sebenarnya mempunyai kekuatan tak terbatas melebihi institusi apapun. Mengapa ? Karena mereka adalah orang yang begitu menyadari kedekatannya dengan Sang Penggengggam Segala Gerak Hidup, Al Hayyu, Allah sebagai pusat kehidupan, kekuatan dan kekuasaan sehingga ia begitu memandang kecil kekuatan kekuasaan selain Allah. Tak ada settik rasa takut di dadanya...
Seperti biasa, kalau tulisan ini nggak cocok bin ngganggu tinggal tekan delete, spam atau klik saja icon trash....itu lebih melegakan dada
Sebab, pertama, tulisan ini sebenarnya saya tujukan kepada seseorang yang saya anggap sebagai sosok tipikal SSJ ( bukan penghuni milis ini ) dan sebentar lagi, beberapa saat ke depan juga harus mengakhiri tugas kehidupan demi kebaikan umat...
Kedua, di negeri ini beberapa saat ke depan sudah mulai musim coblos mencoblos dan kampanye. Setahun dan sesudah pemilu ayat-ayat suci mulai ditebarkan guna mencari posisi tawar. Bisa jadi film bertema Walisongo vs Syekh Siti Jenar diputar ulang dengan lakon lain yang lebih professional dan halus hanya demi sebuah kekuasaan. Karena saat ini semua mulai berjualan kecap nomor satu, semua mengemis agar kita meminang dan mencoblosnya kemudian seperti biasa, setelah meminangnya kita malah terbalik menjadi sandera yang harus mengikuti segala perintahnya.
Ketiga, seperti tulisan mas Fajar Sasongko dalam tanggapan Isra' Miraj, bahwa memang benar adanya, ternyata hadist adalah penyumbang terbesar perpecahan umat. Tak disadari kita bisa melahap ribuan hadits untuk dihafal (dan biasanya ditujukan untuk orang lain) namun malas untuk mengkaji dan mencari rujukan antar ayat Al Quran (untuk ditujukan kepada diri sendiri). Jadi kita harus menghidupkan ajaran Al Quran terlebih dulu. Misalnya dalam hal sholat sudah disebutkan jelas gamblang bahwa sholat (yang benar) itu berdampak (pasti) mencegah kemungkaran, tetapi karena kita lebih demen hadist akhirnya dampak sholat kita lebih suka menyalahkan dan menyesatkan orang lain daripada punya nyali besar mencegah kemungkaran. Realitasnya kita tak pernah serius ngurusi kemungkaran koruptor dan sejenisnya yang sebenarnya kalau dikategorikan dalam tarekh kesejarahan asbabunuzul. Quran menyebutnya sebagai kaum kafir yang memonopoli dan mengkadali hidup umat. Akhirnya kita lebih suka galak mensatpami gerak gerik sholat seseorang yang jelas jelas ingin bertaqorub kepada Allah daripada keras meminta pertanggungjawaban akhlak seorang yang telah mengaku sempurna sholat rukun dan waktunya. Saya pun bermimpi seandainya orang yang sudah mengaku sholat lalu galak punya nyali terhadap para koruptor ratusan triliun uang negara, wah...bayangkan saja, minim dua setengah persen nya sudah dapat kita salurkan membantu perjuangan Palestina atau kelaparan dan kemiskinan di negara muslim seperti Ethiopia atau Sudan. Itu baru minim...bayangkan kalau kita ikhlas berbagi fifty-fifty....
Keempat, saya pribadi berharap majlis Dzikrullah ini mampu mencetak ulama yang independen seperti yang saya idamkan sehingga mampu menjadi pengayom dan pelindung orang-orang yang lemah bin dhuafa dalam berbagai hal entah dhuafa secara ekonomi, politik, hukum, pendidikan, bersholat, berbudaya, bertehnologi dll. Nanti kalau sudah ada yang muncul secara ketangguhan seleksi alam, saya dari belakang tinggal keplak - keplok tepuk tangan berteriak sambil membawa poster berisikan bermacam-macam tulisan yang mendukung dengan semangat empat lima sehat sempurna.... Hidup Pak Abu Sangkan, Hidup Pak Deka, Hidup Bos John, Hidup Pak Husaini, Hidup Om Koes, Hidup cak Kobink, Hidup Sam I-one, Hidup Pak Abu Robet atau hidup siapa sajalah...! Kami selalu di belakangmu.... Kami ingin makmur... Kami ingin rukun... Kami ingin damai... Kami ingin lapang... Kami ingin menjadikan anda semua sebagai tameng hidup bila kami sedang dirundung duka entah karena kesulitan ekonomi, penindasan, atau kebuntuan pemahaman hidup... Keringatmu adalah harapan kami sebab keringat kami terasa hampir mengering tanpa mewujud menjadi kenyataan hidup yang menggembirakan.....semoga rahmat Allah selalu menyertai anda dan kita semua....
Dan seperti biasa saya sendiri cukup sebagai kapasitas seorang makmum yang sok sibuk di shaf paling belakang dekat pintu masjid menjadi penerima tamu Allah sambil mempersilahkan masuk dan menanyakan asalnya darimana terus tujuannya mau kemana....pak, bu, mas, dik, om, tante....
Wassalam, semoga bermanfaat
Dody Ide (dody_ide@yahoo.co.id) di milist dzikrullah asuhan bapak Ust Abu Sangkan dan Ust Deka
Tanggapan :
"A.
Marconi" <a.marconi@planet.nl> wrote Pengertian HaditsHadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an. Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah. Ada bermacam-macam hadits, seperti yang diuraikan di bawah ini. · Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi o Hadits Mutawatir o Hadits Ahad § Hadits Shahih § Hadits Hasan § Hadits Dha'if · Menurut Macam Periwayatannya o Hadits yang bersambung sanadnya (hadits Marfu' atau Maushul) o Hadits yang terputus sanadnya § Hadits Mu'allaq § Hadits Mursal § Hadits Mudallas § Hadits Munqathi § Hadits Mu'dhol · Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawi o Hadits Maudhu' o Hadits Matruk o Hadits Mungkar o Hadits Mu'allal o Hadits Mudhthorib o Hadits Maqlub o Hadits Munqalib o Hadits Mudraj o Hadits Syadz · Beberapa pengertian dalam ilmu hadits · Beberapa kitab hadits yang masyhur / populer I. Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya PerawiI.A. Hadits MutawatirYaitu hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad yang tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Berita itu mengenai hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera. Dan berita itu diterima dari sejumlah orang yang semacam itu juga. Berdasarkan itu, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu hadits bisa dikatakan sebagai hadits Mutawatir: 1. Isi hadits itu harus hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera. 2. Orang yang menceritakannya harus sejumlah orang yang menurut ada kebiasaan, tidak mungkin berdusta. Sifatnya Qath'iy. 3.
Pemberita-pemberita itu
terdapat pada semua generasi yang sama. I.B. Hadits AhadYaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. Sifatnya atau tingkatannya adalah "zhonniy". Sebelumnya para ulama membagi hadits Ahad menjadi dua macam, yakni hadits Shahih dan hadits Dha'if. Namun Imam At Turmudzy kemudian membagi hadits Ahad ini menjadi tiga macam, yaitu: I.B.1. Hadits ShahihMenurut Ibnu Sholah, hadits shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu'allal (tidak cacat). Jadi hadits Shahih itu memenuhi beberapa syarat sebagai berikut : 1. Kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an. 2. Harus bersambung sanadnya 3. Diriwayatkan oleh orang / perawi yang adil. 4. Diriwayatkan oleh orang yang dhobit (kuat ingatannya) 5. Tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) 6. Tidak cacat walaupun tersembunyi. I.B.2. Hadits HasanIalah hadits yang banyak sumbernya atau jalannya dan dikalangan perawinya tidak ada yang disangka dusta dan tidak syadz. I.B.3. Hadits Dha'ifIalah hadits yang tidak
bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak
dhobit, syadz dan cacat. II. Menurut Macam PeriwayatannyaII.A. Hadits yang bersambung sanadnyaHadits ini adalah hadits
yang bersambung sanadnya hingga Nabi Muhammad SAW. Hadits ini disebut hadits
Marfu' atau Maushul. II.B. Hadits yang terputus sanadnyaII.B.1. Hadits Mu'allaqHadits ini disebut juga hadits yang tergantung, yaitu hadits yang permulaan sanadnya dibuang oleh seorang atau lebih hingga akhir sanadnya, yang berarti termasuk hadits dha'if. II.B.2. Hadits MursalDisebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi'in dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan sahabat tempat menerima hadits itu. II.B.3. Hadits MudallasDisebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad ataupun pada gurunya. Jadi hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya. II.B.4. Hadits MunqathiDisebut juga hadits yang terputus yaitu hadits yang gugur atau hilang seorang atau dua orang perawi selain sahabat dan tabi'in. II.B.5. Hadits Mu'dholDisebut juga hadits yang
terputus sanadnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi'it dan tabi'in
dari Nabi Muhammad SAW atau dari Sahabat tanpa menyebutkan tabi'in yang menjadi
sanadnya. Kesemuanya itu dinilai dari ciri hadits Shahih tersebut di atas
adalah termasuk hadits-hadits dha'if. III. Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawiIII.A. Hadits Maudhu'Yang berarti yang dilarang, yaitu hadits dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah hasil karangannya sendiri bahkan tidak pantas disebut hadits. III.B. Hadits MatrukYang berarti hadits yang ditinggalkan, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta. III.C. Hadits MungkarYaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya / jujur. III.D. Hadits Mu'allalArtinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa disebut juga dengan hadits Ma'lul (yang dicacati) atau disebut juga hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat). III.E. Hadits MudhthoribArtinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan. III.F. Hadits MaqlubArtinya hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi). III.G. Hadits MunqalibYaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah. III.H. Hadits MudrajYaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang didalamnya terdapat tambahan yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari perawi sendiri atau lainnya. III.I. Hadits SyadzHadits yang jarang yaitu
hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya) yang bertentangan
dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi (periwayat / pembawa)
yang terpercaya pula. Demikian menurut sebagian ulama Hijaz sehingga hadits
syadz jarang dihapal ulama hadits. Sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut
juga hadits Mahfudz. IV. Beberapa pengertian (istilah) dalam ilmu haditsIV.A. Muttafaq 'AlaihYaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, atau dikenal juga dengan Hadits Bukhari - Muslim. IV.B. As Sab'ahAs Sab'ah berarti tujuh perawi, yaitu: 1. Imam Ahmad 2. Imam Bukhari 3. Imam Muslim 4. Imam Abu Daud 5. Imam Tirmidzi 6. Imam Nasa'i 7. Imam Ibnu Majah IV.C. As SittahYaitu enam perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad bin Hanbal. IV.D. Al KhamsahYaitu lima perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Bukhari dan Imam Muslim. IV.E. Al Arba'ahYaitu empat perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim. IV.F. Ats tsalatsahYaitu tiga perawi yang tersebut pada As Sab'ah, kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ibnu Majah. IV.G. PerawiYaitu orang yang meriwayatkan hadits. IV.H. SanadSanad berarti sandaran yaitu jalan matan dari Nabi Muhammad SAW sampai kepada orang yang mengeluarkan (mukhrij) hadits itu atau mudawwin (orang yang menghimpun atau membukukan) hadits. Sanad biasa disebut juga dengan Isnad berarti penyandaran. Pada dasarnya orang atau ulama yang menjadi sanad hadits itu adalah perawi juga. IV.I. MatanMatan ialah isi hadits
baik berupa sabda Nabi Muhammad SAW, maupun berupa perbuatan Nabi Muhammad SAW
yang diceritakan oleh sahabat atau berupa taqrirnya. V. Beberapa kitab hadits yang masyhur / populer1. Shahih Bukhari 2. Shahih Muslim 3. Riyadhus Shalihin Syekh Bejirum dan Rajah Anjing
Cerpen Fahrudin NasrullohSYEKH BEJIRUM DAN RAJAH ANJING
Pesan lain Ibnu Batuta kepada Syekh Bejirum, sebelum ia pergi tanpa salam pisah, agar meneruskan petualangannya, terutama demi menemukan kelima belas jilid kitab tersebut untuk selanjutnya diserahkan kepada seorang pembesar kerajaan Majapahit di Pulau Jawa. Sejenak Syekh Bejirum seperti dirogoh kesadarannya, memandang lepas bebayang Ibnu Batuta yang menghilang ditelan hirukbising para tuan yang menuntaskan lelah penat dalam mabuk arak dan canda bahak di kedai itu.
Alangkah pertemuan yang teramat singkat nan mencekat kerongkongan, terasa mampat pedat. Seakan arwah sosok ini menyurupi jasadnya. Dengan cambuk kutuk, tanpa ampun, ia bakal bersabung nyawa dalam samudra apiraya. Setidaknya, bagi Syekh Bejirum, ini bukan mimpi sunyi atau tipudaya peristiwa yang melembekkan tantangan sekaligus tugas kelewat muskil itu. Dan memang sejak berusia muda ia telah tersesap kagum akan cerita petualangan Ibnu Batuta. Pikirannya mengabut, kala desir angin mengibaskan kedipan matanya. Di pucuk bayangannya bergentayangan serentang perjalanan mahapanjang ke berbagai benua hingga kelak ia terdampar di pantai utara Pulau Jawa. Lalu dengan hati digentar ngilu, ia membuka kitab itu. Pada halaman pertama sebelum mukaddimah tertoreh:
Segala mata memuja mantra, langit menggelegak di benaman waktu, semesta mengapung dalam pucat dingin subuh. Lekaslah sirna segala bala dan muslihat bayangan dunia, cermin batin lampus menghisap raga, menista segenap tetirah di bumi merah di jiwaluka membara. Duhai iman dan syakwasangka, alangkah mulia pahala dan dosa membadai melebur mengelam diteluh gemuruh surga dan neraka. Selamat datang kisah silam, selamat tinggal kisah mendatang yang tersimpan dalam kitab akhirat. Wahai manusia senjakala, kelak, lenyapkanlah bisikan laknat kitab hitam yang dikobarkan syair maut mayapada dan Jinmenus[i][1] berajah anjing buta. (Ibnu Batuta Al-Tanji, Nur al-Yaqin fi Waswasi al-Sihr al-Dunya, Jilid V, 1326 M).
Mungkinkah setiap bacaan suci karangan manusia adalah ranah terlarang bagi pembaca yang luput memburu dirinya dan lalai menamai dunia. Atau semua bacaan adalah segala mengada yang sejak silam telah tersimpan di sebuah tempat yang dihuni para makhluk langit, yang tertulis secara azali, dan rahasianya sedikit demi sedikit tersingkap ketika manusia mencerap renik peristiwa namun akhirnya kembali dilelap gulita. Seolah aksara diperuntukkan hidup-mati menerangi kebaikan dan keburukan, dan segala yang hidup bakal terkutuk saat aksara dihirup. Mungkin saja, lantaran tergulung amukan kisah petualangan Ibnu Batuta dalam karya akbarnya Tuhfah al-Nuzaffi Gharaib al-Amsar wa al Ajaib al-Asfar (Persembahan Memabukkan Sang Pengembara tentang Kota-kota Asing dan Petualangan yang Mengagumkan), tak sangsi lagi Syekh Bejirum mulai tersedot untuk mengungkap rahasia ganjil yang terkandung dalam Nur al-Yaqin fi Waswasi al-Sihr al-Dunya. Ia yakin bahwa setiap petualangan bakal membuat si pengelana tergelincir, sampai ia kehilangan diri, tak bertuan tak bertanah, tanpa kubur tanpa nama.
Kedua kitab itu, di kedalaman rayabaca yang menyiksa, telah benar-benar melimbur Syekh Bejirum ke dalam sihirkata berselimut kisah, mengendusi tilas petualangan Ibnu Batuta selama 27 tahun. Bahkan menurut Sir Henry Yules, kendati sejarawan George Sarton agak meragukannya, ia telah mengarungi pelbagai benua sepanjang 75.000 mil melalui daratan dan lautan (melebihi Marco Polo, Hsien Tsieng, Drake dan Magelhain, dan sebelum munculnya mesin uap).
Dua
konon cerita perjalanan Syekh Bejirum hanya dikenal di Nusa Jawa, tapi kemudian beredar hingga mencapai wilayah-wilayah terjauh, dibawa oleh para petualang yang boleh jadi sempat bertemu dengannya. Walau demikian, kisah sosok ini hanya termaktub dalam dua kitab. Kitab pertama, Langgam Seribu Kisah Sehelai Dusta, karya pujangga Pasai, Mahmud Baidur, yang dibunuh tanpa sebab yang jelas oleh cucu Arya Tadah bernama Rakyan Arya Gadah, saat ia mengunjungi gurunya, Empu Candragupta, di Majapahit. Yang kedua, kitab Kidung Sabrang Sukma karya Pangeran Pekik dari Surabaya, kerabat Sultan Agung Mataram.
Selain menyarikan ihwal hikayat kembara Syekh Bejirum, Pangeran Pekik juga mendedahkan ajaran mistik Malamatiyyah[ii][2] sang syekh. Paparan tentang ajaran mistik Malamatiyyah ini merujuk kepada tiga karangan Syekh Bejirum, Zubdatu Afaati al-Azazil fi al-Zuhrah al-Ahmar (Untaian Marabahaya Azazil di Dunia Bintang Merah), Kanzu al-Auliya (Harta Karun Para Wali), dan Qishas al-Ard al-Aswad (Himpunan Kisah dari Tanah Hitam). Konon, ketiga kitab ini merupakan rujukan terpenting dalam menelaah khazanah mistik Jawa di zaman kemudian.
Sejak Mahmud Baidur terbunuh, karyanya juga ikut raib. Maka, hanya karya Pangeran Pekiklah yang tersisa (menurut sebagian sejarawan), meski di kemudian hari, tanpa runtutan alasan yang pasti, memicu denyar kerancuan kisah berselimut dusta. Dalam mukaddimah kitab Kidung Sabrang Sukma, menurut pengakuan sang pengarang, ia sengaja menyalin hampir semua dari tiga karya Syekh Bejirum itu, atau justru di relung remang batin terdalamnya bangkit bisik licik untuk mengocok segala kitab bacaannya (tidak hanya karya Syekh Bejirum, namun juga milik pengarang lainnya). Yang jelas, dalam kitab itu, Pangeran Pekik dengan telaten dan rinci menguraikan beragam tradisi mistik Jawa dengan alegori gnosis India dan Arabia dalam bentuk kisah pengembaraan.
Barangkali Pangeran Pekik sekadar larut dalam kebebalan khayal kitab-kitab yang dibacanya (juga tokoh-tokoh di dalamnya), bahwa di sana terhampar ribuan kisah dalam gelap-terang cecabang mimpi di pejaman mata para pengelana, bayangan seabrek peristiwa tak berjejak yang terus menyesaki ingatan yang lambat laun pudar lalu diriwayatkan kembali dengan mengaca ke seperca cermin maya.
Tiga
Dikisahkan dalam kitab Kidung Sabrang Sukma. Tatkala iman tercerabut terbang mengangkasa, menghilang ditelan kehampaan, terbius kejur pijar bintang Zohrah, tersepuh peluh sabda. Tersebutlah di awal cerita sosok Zahlul Iskandar Tuqluq, seorang Muslim pemuja mantra dari Kalkuta, yang menemukan tumpukan kitab ganjil di sekotak peti yang terpendam di sebuah teluk tak bernama. Di antara tumpukan kitab itu terdapat kitab Nur al-Yaqin fi Waswasi al-Sihr al-Dunya. Ketika membuka dan mencermati lembar demi lembar kitab tersebut, tanpa sama sekali ia sangka, menguar abu beracun yang menggosongkan kedua matanya, dan ia pun seda seketika.
Dikisahkan pula bahwa pada kisaran Agustus 1398, saat tiba di Kalkuta, tiba-tiba Syekh Bejirum dihadiahi sepeti kitab (yang berjumlah lima belas jilid) oleh seorang saudagar asal Hijaz. Alangkah terkejut ia bercampur bahagia sewaktu menyadari bahwa kumpulan kitab itulah yang sedang dicarinya. Suatu berkah atawa maunah bahwa ia tidak mengalami nasib sebagaimana yang dialami Zahlul Iskandar Tuqluq.[iii][3] Ia membawa serta kitab-kitab itu dalam perjalanan ke Swarnadwipa dan Jawa.
Empat
Sekerumun kisah mengabu di sebutir debu di rimba waktu, terhempas diamuk desah azan subuh. Mengekalkan cakap angin, saat bayangan tuhan mengambang di hening awan, menyelinap ke dalam mimpi manusia yang malang, dihembus fajar keabadian. Tak ada jejak kejadian, hanya gentar cermin pikiran, lalu dongeng remang berkabar fana merenggut ruh segala.
Selama kurang lebih sebulan di kapal. Di tengah perjalanan ke Jawa, Syekh Bejirum mempelajari lima belas jilid kitab itu. Setelah ia menyuntuki pasase ketiga dari bagian pendahuluan jilid pertama, ternyata kitab akbar itu dianggit oleh Ibnu Batuta bersama sejumlah pengarang lain, yaitu Huzaimah Tulal Bazimah al-Iraqiy (jilid VI sampai jilid X, Khurasan, 1327 M) dan Bagjaz bin Huzailil Kiram al-Andalusiy (jilid XI sampai XV, Basrah, 1328 M). Sementara pada jilid I sampai V tertoreh nama Ibnu Batuta sebagai pengarang tunggal.
Lima belas jilid kitab itu memuat serangkaian kronik petualangan lintas benua, ilmu alkemi, astronomi, ornitologi, aljabar, mistisisme, dan sejumlah ramalan tentang kejadian-kejadian janggal di Hari Kiamat serta sekelumit ihwal dunia arasy (yang mengisahkan bagaimana Tuhan merancang kehidupan baru di akhirat). Semua kisah, beragam ilmu, ajaran dan ramalan dalam kitab itu mereka tuliskan berdasarkan bisikan Hakhqahzail, Jakhsyakyail, Ghatzyail, Waqzalhail, Dagsyakzail, Kahfadzmahyuz dan Maithatharuz. Ketujuh nama ini menunjuk kepada nama malaikat dan jin muslim. Sebagian dari kitab itu (meski secara acak) diterjemahkan Syekh Bejirum ke dalam bahasa Melayu dan bahasa Jawa Kuno dengan bantuan seorang darmaputra tersohor dari Kahuripan, Wiragil Saketi, dan seorang China totok, Bah Siok Kong, paman bungsu Ma Huan.[iv][4] Lima
Pada saatnya kelak hingga akhir hayat. Ketika calangmata tersilap aneka kejadian dunia. Saat debur pikiran tersesat ke jurang mimpi yang tak mengenal gelap dan terang, dan ingatan meracau sendiri lewat sunyi lautan kubur api. Sesobek catatan kecil, sekadar tanda dari ajal yang singkat, dari sang abdi berkalung pedang laknat.
Demikianlah kiranya derai amuk dalam benak Rawujil, sosok bertubuh cebol berparas parut pucat asal Desa Bedander dekat Kotapraja Majapahit, yang bersetia sepenuh jiwa mengabdikan seluruh hidupnya kepada Syekh Bejirum. Ia ditugasi sebagai juru tulis, selain melayani keperluan sehari-hari sang tuan. Inilah catatan berharga (dengan aksen tutur yang khas) yang tersisa darinya sebelum kapal yang mereka tumpangi lebur disapu badai hantu ombak laut:
Kurang lebih dua minggu sebelum kapal yang kami naiki tinggal kepingremah dan nyaris tak bersisa di pantai utara Pulau Jawa. Gemuruh ombak bergulungan membadai dari segenap penjuru. Saat itu, langit menghitam dihempaskan taufan Jaljalut bersepuh arwah pahit hujan yang begitu buruk nan miris dikisahkan para malaikat yang dibantai keturunan Iblis Jasim. Dari sinilah asal-usul teka-teki mata tersihir kata, menggerakkan Syekh Bejirum untuk menerjemahkan dan mensyarah kitab entah itu. Selama empat puluh tahun yang lalu, kitab itu telah dipesan oleh Mahesa Wukirlawa, kakek buyut Jagur Banaspati, seorang ahli nujum Prabu Wikramawardana, demi memenuhi impiannya: menggabungkan ilmu kesaktian Jawa dengan sihir jahat dari dunia Arabia demi kelanggengan kejayaan Majapahit. Namun Syekh Bejirum tidak menggubris dengkingcerita itu. Baginya, mungkin, tujuan yang lebih mulia ke Jawa ialah menuntut ilmu sekaligus berdakwah. Kapal kami memang nahas bin celaka. Juga barangkali sudah menjadi takdir sang Hyang Widi Wasa. Nakhodanya pemabuk sableng dari Inggris, Peter Goldberg, dan kekasih lacurnya Panji Brahwala dari Pajajaran. Mungkin laknat mungkin nasib tiada sayang, atau sebab arwah Prabu Wirabumi yang tak tenang di alam barzah. Kami tenggelam di tengah laut. Tiga puluh awak dan seratusan penumpang terlalap badai hantu laut, jasad mereka lantak lalu menjelma menjadi kawanan burung bingis bersayap petir, berupas ular sanca, meraung-raung mengerikan di angkasa malam. Padahal kami kerap mendengar mereka melantunkan tasbih, tahmid dan takbir, bahkan mendaras Al-Quran saban bakda shalat. Bagi kami yang selamat, inilah kekejaman laut yang paling jahanam. Bukan karena kualat atau lantaran sebagian dari kami memendam niat jahat. Seperti tato tentara Tartar, penuh amis liur naga. Ah, Dewa selalu bisa saja merajut cerita dan menyelamatkan lelaki ringkih ini. Namun bagiku, yang lebih menyakitkan ternyata Panji Brahwala kesayanganku tapi lebih dicintai Peter Goldberg, juga ditelan laut bersamanya. Memang ada yang meramalkan, ia bakal mati muda, sebab taji lingganya telah memborok sejak kebiasaan bejatnya itu bermula.[v][5]
Enam
Di pesisir pantai Tuban, remah sisa bangkai kapal ditemukan. Puluhan prajurit Majapahit menyisir di sepanjang pantai. Dalam keadaan setengah telanjang, Wurajil diseret dua orang prajurit Panglima Cakrawangsa. “Wurajil, benarkah ini tulisanmu? Apakah Syekh Bejirum bersamamu dan membawa kitab Arab berajah anjing itu? Beruntung sekali sekarang kau masih hidup. Ketahuilah, saat ini aku adalah abdi Prabu Wikramawardana. Gustimu, Prabu Bhre Wirabumi, sudah mati. Selesailah Perang Paregrek[vi][6] yang berkepanjangan ini.”
“Dasar pengkhianat, penghasut! Ribuan tentara Majapahit telah menjadi tumbal dalam perang saudara yang konyol ini, termasuk sisa-sisa pengikut Panglima Cheng Ho,” lengking Wurajil seraya menyambar catatan itu dari tangan Panglima Cakrawangsa lalu merobek-robek dan menelannya. Sontak Panglima Cakrawangsa bermurka durja dan terbakar dendam masa silamnya. Secepat kilat ia mencabut pedangnya, menebas leher Wurajil, menenteng kepalanya yang bersimbah darah itu seraya meledakkan bahak serapah, menenggak darah segarnya, lantas melemparkannya ke laut.
“Panglima, dilihat dari ciri-cirinya, tampaknya kami sudah menemukan Syekh Bejirum!” lapor salah seorang prajurit.
“Pinggirkan dia ke tepi pantai, cari kitab yang beraksara Arab dan bergambar rajah anjing. Pokoknya temukan kitab itu, sebelum kita semua dipenggal Gusti Jagur Banaspati. Kumpulkan semua barang apa saja. Pastikan apakah ia masih hidup atau sudah mati!” perintah Panglima Cakrawangsa kepada para prajuritnya yang sedari tadi bengong setelah lelah payah menunggu selama tujuh hari tujuh malam di pantai Tuban itu.
Lembaran-lembaran kertas berceceran. Sebagian basah, sebagian kering. Tampak selembar kulit kitab tertancap di pasir, nyunyut, amis, menguarkan percik asap air laut. Sejenak bau aneh merebak, sejenis aroma kemboja bercampur minyak zakfaran, beberapa saat kemudian berganti bau sangit singa laut lalu sengak busuk dubur orok gendruwo. Tak lama kemudian, hawa najis basin itu sirna. Kesiur angin pantai terasa membacok lunglaimata dan terik surya yang terasa gerah bersaput awan, sungguh menyiseti hati yang terajam gelisah. Tujuh
Sekawanan burung layang-layang terbang menghiasi cakrawala. Merangsek hebat menghantam ombak. Menyambar-nyambar serpihan bangkai kapal dan isinya: pedang bermata zamrud, peti berukir Cina, perisai bergambar naga dan sura, ceceran rambut, sepotong jubah sutra, alat ukur bumi dan penunjuk arah, pena perunggu dari Kalkuta, terompah bermata delima merah, tombak bergagang cula badak. Semua benda itu bertebaran di pantai dalam selidik tajam mata Panglima Cakrawangsa. Kerongkongannya seperti tergorok gergaji saat membayangkan alangkah laknat badai hantu laut menghajar mereka. Perlahan-lahan ia menghampiri sesobek kertas basah, meski sedikit luntur, tapi pasti tulisan ini menggunakan tinta Arab yang dicampur minyak misik. Di situ tertulis:
Allah Maha Kuasa, kisah para wali dijaga Raja Tarmuz dan bala tentara Jin Bairuz. Tiga peti besar berisi kalung bertatah huruf Hijaiyah telah tiba di tlatah Jawa, Swarnadwipa dan Malaka. Hidayah melimpah berupa kaca benggala, teladan kebajikan dan kejahatan. Wahai kisanak, simaklah gerak-gerik kidang kencana bersisik ular, rantai emas dalam cengkeraman cakar burung bulbul beterbangan mengarungi ratusan candi yang mulai ditelan bumi. Hancurnya Recalanang, Butalacala dan pesihir Diyu Pacicilan yang dulu senantiasa berjaga di hening gunung Lawa Ijo dan rimba hutan Bajang Batu. Saudagar Jamal Khair Jahgsar dari Kalkuta telah bertandang ke Jawa. Berbondong-bondong para prajurit bertombak bermata Jahbazil, menyiapkan trisula dan gendewa, pula tampak bebocah buntung kaki bermata juling, mengelu-elukan arak-arakan sang putri saudagar, Dewi Surati Widasari. Ingatlah dan sadarlah, saat tajimani Dajjal menetesi mata manusia di setiap isya dan tarhim subuh, bersegeralah bangkit lalu berjunub dan berwudu. Lungsuran malam bertakbir akbar memusnahkan jejak lengking dedemit yang digusah gema azan dan aji sakti Qulhu Geni[vii][7] Pangeran Jager, kerabat Ki Bondan Kalangjiman yang tak pernah terkalahkan itu. Tampak di ufuk barat, matahari bersabut angin gelewang, menggoyangkan ukiran kayu raksasa Batradewa yang dikerumuni rajah tetuyul dan rajakaya bertuliskan Hanacaraka, membius rasa gentar kaum kafir laknatullah. Menanahkan telinga segerombol siluman betina yang lorek dan cacat kubulnya, serentak lenyaplah itu semua, dan kini terpampang pesona alangkah elok dan menawannya bandar pelabuhan ini. Sungguh memukau, ketika bulan purnama sempurna di tengah laut, namun aneh dan giris, tatkala anjing-anjing berajah Arab berseliweran di sekitar kaki kuda Rimang Sembrani milik Raden Bogang Kaliwang. Masya Allah, seharusnya manusia berlindung kepada Allah dari cermin jahat dunia, meneladani kaum nabi dan wali, inilah orang-orang beriman yang benar-benar telah beriktikad menyebarkan Islam. Arca-arca sesembahan harus dihancurkan, tak ada lagi kitab hitam yang disebarkan Syekh Durga Brahala dan murid-muridnya, yang menyaru menjadi Kiai Alap-alap Jumput Pati dan semua pengikut setia Syekh Abdul Gani Dailami. Segala kemurtadan ini akan berakhir kisanak, seperti kisah peperangan dalam kitab langit dan kitab bumi. Yakinilah anggitan asli Syekh Bejirum ini, tanpa bimbang dan kecil hati. Inilah kebenaran atas kezaliman iblis dalam hati manusia. Tiada tuhan selain Allah, dan kalam qadim…[viii][8]
Kertas basah itu hanya dua lembar, sebagian tintanya terkabur larut air laut. Sebagian lagi diterbangkan jahat angin malam. “Huh, ini hanya tulisan konyol Syekh Bejirum. Sadarkan dia segera, sebelum kita membawanya ke Majapahit. Atau bila perlu, jika dia tidak bisa diajak bekerja sama, kita rajang-rajang tubuhnya. Bawa dia kemari, cepat!” Panglima Cakrawangsa yang mulai kalut membentak para prajuritnya.
Di kejauhan sang panglima mendengar sayup teriakan salah seorang prajurit yang memberitahu bahwa Syekh Bejirum telah meninggal. Betapa murka dibayang petaka saat Panglima Cakrawangsa mendengar kabar buruk itu. Tak ada lagi saksi hidup yang bisa dibawanya ke hadapan Gusti Jagur Banaspati. Tapi ia tidak ciut hati, ia terus memerintahkan para prajurit untuk menemukan kitab berajah Arab itu.
Kemudian seorang prajurit lainnya mendekati sang panglima, menyodorkan selembar kertas dan sebuah botol berisi arca Agatsya berkepala tiga, yang masing-masing berupa kepala anjing, jenglot, dan ular sanca.[ix][9] “Di mana kautemukan arca dan kertas ini? Agaknya kertasnya masih utuh dan tintanya seperti baru saja digoreskan,” selidik sang panglima.
“Di bawah bangkai pohon besar itu Panglima,” jawab prajurit itu dengan hati-hati. Merasa usahanya sia-sia, Panglima Cakrawangsa merutuk sendiri dalam hati. “Ah, mengapa tugas masygul ini dibebankan kepadaku. Weladalah, lebih baik aku bertarung hingga mati dengan seratus jawara pilih tanding ketimbang berurusan dengan orang-orang sinting dan menyebalkan ini.”
Panglima Cakrawangsa dan para prajurit segera meninggalkan pantai suram itu. Demi maut yang mendengus di kaki kuda Sembrani yang menerbangkan percik dendam atas nama kehidupan. Demi angin sangit yang mendaraskan bismillah di ubun-ubun ruh jagat raya. Terkutuklah para pemburu kisah, yang mengabarkan sabda Ilahi di padang lantak reruntuhan candi, pada unggunan kitab hitam yang dihanyutkan ke tengah laut oleh gerombolan serdadu bercaping hitam berkalung harimaunaga. Sementara para pendekar Jagur Banaspati terus dikerahkan memburu kitab Arab itu. Kendati bebayang bangkai kapal dan para penumpangnya menghantui mereka selama-lamanya.
[ii][1] Sesosok makhluk yang lahir dari persetubuhan jin dan manusia. Terkadang Jinmenus ini bisa berganti rupa sesuka hati dan mampu menembus dunia manusia dan alam gaib. Dalam literatur Jawa Kuno (lihat kitab Geger Caritaning Demit Jawi karya Raden Sarumenggala dari Ponorogo, terbitan Baron van Boven, 1759 M, juga Serat Sarubawuk karya Raden Sarutama dari Pasuruan, terbitan Bucekil, 1821 M) diceritakan bahwa makhluk ini mampu bersenggama dengan dirinya sendiri dan beranak-pinak saban hari. Saking banyaknya, yang dikenal orang Jawa hanya sebagian, semisal Orok Blentong, Barong Lalapan, Begaruk Sargawuk, Asu Gudik Petakilan, Nyi Gendruk Rai Sewu, Balung Sawur, Ndas Glundung, Lir Kowarkawir, Plencing Sawir Gading, Ki Dong Beng Walangkaji, Wewe Kuncung Bayi, Benggrong Usus Mabur, Nyi Sembur Bawuk, Jrangkong Ilat Geni, Raden Jembawut, Blang Pek Song, Nyi Sembir Segawon, Begarong Kalong, Babi Til Sumbing, Betara Lawa, Gagak Banger, Congor Bogang, Cungcaliwuk, Cong Wik Kong, Ki Buto Congkrang, Keling Upas Getih, Ki Tol Kematkemut, Roro Brojosuto, Blong Bengkawuk, Jangir Kokokbeluk, Jungkarut Sowo, Ki Jaran Bolong, Jalidul Blawiro. Kesemua makhluk ini bersemayam di tempat-tempat angker dan wingit, kerap mengganggu manusia dan juga dijadikan wasilah (bahkan sesembahan) oleh sebagian manusia untuk mencari pesugihan, pun niat jahat lainnya.
[ii][2] Dalam sejarah mistisisme Islam, Malamatiyyah atau Jalan Kesalahan atau Jalan dari Batil menuju Batin lahir pada abad ke-3 Hijriah atau abad ke-9 Masehi di kota Khurasan di Nishapur. Menurut tukang cerita di zaman itu, Al-Muqaddasi ibnu al-Bakhsyi, kelompok ini muncul disebabkan oleh Al-Asyabiyyah Al-Wakhsyah atau perang sektarian yang liar ihwal perbedaan paham dalam bermazhab dan berteologi antara mazhab Hanafiyyah dengan Syafi’iyyah, Syiah dengan Karamiyyah, pun kubu Mutatawwiah dengan ekstremis Khawarij. Melihat kondisi yang demikian, kelompok Malamatiyyah mulai menjalani lelaku hidup yang asketis dan sarat teka-teki. Kaum Malamati secara lahiriah adalah sebagaimana orang awan biasa dan secara batiniah tidak mewujudkan klaim bersama Tuhan, sehingga kesadaran paling rahasia mereka, yang terletak antara mereka dengan Tuhan, dapat dipandang bukan oleh batiniah mereka maupun hati lahiriah mereka. Tak seorang pun mampu mencapai derajat kaum ini, kecuali jika dia menganggap semua perbuatannya sebagai riya’ dan semua keadaan spiritualnya sebagai kesombongan. Maka tujuan utama Kaum Malamati adalah untuk meraih seharkat derajat di mana semua pencapaian psikologis dan spiritual seseorang secara menyeluruh diruhanikan. Hal ihwal mengenai sekte ini bisa ditelusuri dalam Risalah al-Malamatiyyah, Abu Abd Rahman al-Sulami (wafat 414 H/1021M), Awarif al-Naysabur, Abu Abdullah ibnu Abdillah al-Hakim al-Bayyi’ (wafat 404 H/1014 M), Malamat al-Sulamiyyah, Harrymann Syah (Maktabah Qalawiyyah, Teheran, 1877 M), Al-Malamatiyyah wa al-Sufiyyah wa al-Futuwwah, Abu al-‘Ala al-Afifi (Al-Bi’tsah, Kairo, 1945), The Histories of Naishapur, R. N. Fyre (Harvard Oriental Series No. 45, Hague Books, 1965).
[ii][3] Perlu dicatat bahwa Pangeran Pekik tidak memerinci secara jelas, apik dan rapi (mungkin disengaja demikian) apakah lima belas jilid kitab itu adalah kumpulan kitab yang sama persis dengan yang ditemukan Zahlul Iskandar Tuqluq atau kenyataan lain bahwa Syekh Bejirum tidak sekadar kebetulan atau dengan cara bijak atau bahkan mungkin dengan upaya tipukeji hingga ia dengan mudah mendapatkan kitab itu dari si saudagar Hijaz. Kendati juga tidak bisa dipastikan si saudagar ini mendapatkannya langsung dari Zahlul Iskandar Tuqluq atawa lewat cara lain.
[ii][4] Mereka tiba di Malaka sekitar Maret 1399 M. Penerjemahan lima belas jilid kitab itu ke dalam Bahasa Melayu dan Bahasa Jawa Kuno mampu mereka rampungkan dalam waktu enam bulan. Wiragil Saketi adalah seorang darmaputra sekaligus pujangga (duta Kahuripan di kerajaan Malaka) yang menguasai sekian bahasa. Demikian pula Bah Siok Kong (asal Tiongkok, dan tinggal di Malaka sejak 1395 M), seorang ilmuwan dan ahli bahasa juga penasihat dagang dari Dinasti Yuan. Dan kelak, pada 1405 M sampai 1431 M, Laksamana Cheng Ho (dan dua juru bicaranya, Ma Huan dan Feh Tsin beserta armada 25 kapal besar dengan jumlah 18.579 serdadu) didatangkan oleh Raja Palembang untuk menumpas para perompak Tiongkok Hokkian di bawah pimpinan Chen Tsu Ji, dan Cheng Ho pun berhasil. Selanjutnya ia sampai di pelabuhan Semarang lalu ke Majapahit pada 1405 M hingga 1416 M.
[ii][5] Catatan Wurajil ini terdapat pada halaman 213 dalam Kidung Sabrang Sukma. Pada halaman sebelumnya (201) memang Pangeran Pekik agak panjang menceritakan sosok Wurajil ini (dari asal-usulnya, keluarga, dan pengabdiannya di istana Majapahit sebagai tukang lawak), lebih-lebih cerita bagaimana ia menyertai perjalanan Syekh Bejirum hingga tiba dan wafat di Pantai Tuban. Cerita Wurajil ini dimulai dari halaman 201 sampai halaman 235. Justru yang menarik pada bagian ini adalah: di setiap halaman (dari 201- 235) di sisi kiri atas, tergurat rajah bergambar anjing, dengan gestur kaligrafi seperti huruf ba (bentuk perut), ain dan ghain (empat kaki anjing dengan hanya dua jari dan kuku yang panjang), ya (ekor), ha dan kha (bagian muka dan moncong), ta (telinga yang menggelambir lebar memanjang), dan nun (mata). Sementara seluruh bebulunya dipenuhi titik-titik serupa rintik hujan seperti yang terdapat di sebagian huruf Hijaiyah yang bertitik. Gambar rajah anjing ini di waktu kemudian menjadi rujukan tak terabaikan dalam mengarungi jagat seni rupa Islam di Nusantara.
[ii][6] Perang Paregrek terjadi (1400 M sampai 1402 M) karena sengketa keluarga yang tak kunjung selesai antara kubu Wikramawardana di Majapahit dengan Bhre Wirabumi di Blambangan. Namun akhirnya kubu Blambangan kalah, dan Bhre Wirabumi tewas oleh Kebo Narapati. Perang ini tercatat sebagai perang terbesar yang terjadi di Majapahit sekaligus isyarat runtuhnya kejayaan kerajaan besar itu di kemudian hari.
[ii][7] Sebuah ajian guna membakar dan memusnahkan segala macam bentuk makhluk halus. Biasanya dibaca tiga kali dengan amalan puasa yang telah ditentukan. Rapalan Qulhu Geni ini seperti berikut: Bismillahirrahmanirrahim qulhu geni bismillahirrahmanirrahim qul huwallahu ahad kun fayakun qadiran abadan abadan la ilaha illallahu Muhammadarrasulullahu.
[ii][8] Nukilan ini (dalam Kidung Sabrang Sukma, di akhir kitab, halaman 456 sampai 501), juga tampak acak, terkesan serampangan, kelebatan pemandangan situasi dan tokoh-tokohnya tampak berjejalan, ruwet, ngelantur, tak runtut, atau mungkin itulah cara sang pengarang (entah dari gaya kepiawaian Pangeran Pekik sendiri atau Syekh Bejirum) menorehkan kembali kenyataan dengan keliaran imajinasi yang khas dalam bentuk karya, tidak seperti alur cerita yang lazim dan kronologis sebagaimana pada sejumlah kitab babon Jawa semacam Serat Kanda, Babad Kraton, Hikayat Baron Sakender, Serat Suralelaya, Suluk Wujil atau Het Book van Bonang, Kidung Rumeksa ing Wengi dan lain-lain.
[ii][9] Belum ada sumber yang pasti mengapa arca Agastya di sini memiliki tiga kepala. Yang pasti, Poerbatjaraka dalam Agastya di Nusantara, (seri terjemahan KITLV-LIPI, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992), dengan mengutip Oudheikundige Verslag 1923 karya A. Bosch dan Vincent Smith, mengungkapkan bahwa arca Agatsya atau Maitreya atau Kumbhayoni atau Kombhodara adalah jelmaan seorang pertapa pendamping Dewa Siwa dengan sosok berkumis lebat, janggut runcing, perut sedikit buncit, membawa kendi di tangan kiri, tak bertali kasta seperti arca Resi Comarasvami di candi Kalisiwi di lereng Gunung Katong di Kedu.
Hikmah Diciptakannya SetanSumber: Swaramuslim.net [arsip] Laila dan MajnunLaila &
Majnun Diambil
dari Negeri Sufi ( Tales from The Land of Sufis )
From: tqn@yahoogroups.com
|
|||||
|
|